Masjid Bilal di Madinah

BIRO UMROH SOLO Masjid Bilal di Madinah Jika Anda memiliki kesempatan mengunjungi kota Madinah, baik untuk umroh, haji, maupun wisata religi, maka sempatkanlah untuk mengunjungi Masjid Bilal ini. Di masjid inilah kisah seorang muadzin terkenal, kesayangan Rasululloh SAW, yang langkah teropah kakiknya terdengar di surga dimulai. Bilal bin Rabah RA, seorang Pelantun Adzan Pertama dalam Islam.

Masjid Bilal di Madinah

 

Masjid Bilal di Madinah

Masjid Bilal Masjid Bilal di Madinah terletak sekitar 560 meter, sangat dekat dengan Masjid Nabawi. Masjid ini dapat Anda tempuh dengan berjalan kaki dari Masjid Nabawi. Masjid ini didirikan untuk mengenang jasa dan kisah perjuangan Bilal bin Rabah bersama Islam. Konon, masjid ini berdiri di tapak bekas kediaman Bilal di Madinah.

 

Siapa Bilal bin Rabah?

Masjid Bilal di Madinah. Bilal lahir di wilayah As Sarah pada tahun sekitar 43 tahun sebelum hijriyah. Ia anak dari Rabah dan ibunya Hamamah, seorang budak perempuan berkulit hitam yang tinggal di kota Mekkah. Karena ibunya ini, Bilal dipanggil dengan sebutan Ibnus Sauda’ (putra perempuan hitam).

Masjid Bilal di Madinah. Saat ayahnya meninggal, Bilal diwariskan sebagai budak untuk tokoh pembesar Quraisy yakni Umayyah bin Khalaf. Sebagai budak, Bilal adalah golongan pertama yang masuk Islam, disebut dengan Assabiqunal Awwalun (Tujuh Orang Yang Pertama Kali Masuk Islam). Mulai dari sinilah siksaan demi siksaan ia terima.

Masjid Bilal di Madinah. Bilal adalah seorang budak. Ia tidak memiliki suku atau keluarga yang menjadi pembela. Saat pemuka Quraisy, terutama majikannya, mengetahui Bilal masuk Islam, ia disiksa tanpa belas kasih. Ia direbahkan di atas padang pasir. Tubuhnya dipakaikan baju besi. Bila matahari tepat di atas ubun-ubun, panasnya begitu menyengat, dapatkah Anda bayangkan bagaimana panas itu?

Masjid Bilal di Madinah. Tak cukup sampai di situ. Bilal terus dicambuk dan dicerca. Ia dipaksa untuk keluar dari agama yang baru saja diyakininya. Banyak budak yang akhirnmya menyerah karena siksaan yang mereka terima, tetapi Bilal tidak. Dia hanya menyebutkan satu nama, “Ahad…Ahad”, yang maknanya Alloh Maha Esa. Abu Bakar RA, salah satu saudagar kaya dan juga Assabiqunal Awwalun, kemudian membebaskannya dari cengkeraman Umayyah. Abu Bakar kemudian memerdekakan Bilal.

 

Hijrah ke Madinah

Masjid Bilal di Madinah. Saat Rasululloh SAW mendapatkan perintah dari Alloh SWT untuk hijrah ke Madinah, Bilal pun tak mau ketinggalan. Hijrah itu dilakukan guna menghindari siksaan demi siksaan kaum Quraisy atas kaum muslim. Sesampainya di Madinah, Bilal tinggal bersama Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr.

Masjid Bilal di Madinah. Bilal selalu menyertai Rasululloh SAW. Ia limpahkan segala tenaga dan perhatiannya untuk nabinya. Dalam suatu hadist dikisahkan bahwa Rasululloh SAW bermimpi telah mendengar suara terompah Bilal di surga. Adapun salah satu amalan kunci dari Bilal adalah ia tidak pernah meninggalkan wudhu.

Masjid Bilal di Madinah. Saat Masjid Nabawi selesei didirikan, Rasululloh SAW memberi kehormatan kepada Bilal untuk mengumandangkan azan untuk pertama kalinya. Ia dipilih karena Alloh telah menganugerahkannya suara yang paling merdu. Sejak saat itulah Bilal ditunjuk sebagai Muadzin Pertama dalam sejarah Islam.

Masjid Bilal di Madinah. Saat peristiwa Fathul Makkah (Pembebasan Kota Mekkah), Rasululloh SAW memanggil Bilal untuk naik ke atap Kakbah untuk mengumandangkan azan saat waktu zuhur tiba. Bilal pun dengan lantang mengumandangkan azan. Ribuan orang berkumpul di dekat rasululloh SAW, termasuk orang-orang Quraisy yang baru saja masuk Islam.

 

Azan Pertama dan Terakhir

Masjid Bilal di Madinah. Setelah Rasululloh SAW wafat, Bilal mengalami kesedihan yang mendalam. Ia tidak mampu menyeleseikan setiap azan yang hendak ia kumandangkan. Bila suaranya tiba pada kalimat “Asyhadu anna muhammadan rasulullohi (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh)”, suaranya terhenti. Ia tersedu-sedu.

Masjid Bilal di Madinah. Karena kesedihannya itu, Bilal meninggalkan kota Madinah dan berjihad atas izin Abu Bakar, khalifah pada masa itu. Ia kemudian bermukim di wilayah Darayya yang tidak jauh dari kota Damaskus.

Masjid Bilal di Madinah. Lama Bilal tak mengunjungi Madinah hingga suatu malam ia bermimpi. Rasululloh SAW muncul dalam mimpinya dan menegurnya, “Ya Bilal, maa hadzal jafa’? (Hai Bilal, kenapa Anda tak mengunjungi?”. Bilal terperanjat dan segera ke Madinah, berziarah ke makam Nabi SAW.

Masjid Bilal di Madinah. Saat di Madinah, Bilal bertemu dengan dua cucu Nabi SAW yang telah beranjak dewasa, Hasan dan Husein. Keduanya meminta Bilal untuk mengumandangkan azan sekali saja. Umar bin Khattab, khalifah sesudah Abu Bakar, juga memintanya. Akhirnya, terkabullah permohonan mereka.

Masjid Bilal di Madinah. Seluruh Madinah lenyap saat mendengar suara azan bilal, suara yang telah sekian tahun hilang. Saat Bilal mengucapkan kembali “Asyhadu anna muhammadan rasulullohi”, Madinah pecah oleh tangisan. Khalifah Umar sangat keras tangisannya karena teringat sang Nabi yang sangat dicintainya. Bilal pun tak mampu meneruskan azannya. Lidahnya tercekat oleh air mata dan kesedihan yang menusuk dadanya.

Masjid Bilal di Madinah. Hari itu, Madinah memperingati masa ketika Rasululloh SAW, prang yang paling mereka cintai, bersama. Suara azan Bilal membangunkan setiap kenangan dan kecintaan mereka pada Rasululloh SAW. Dan adzan itu merupakan adzan yang pertama dan terakhir sejak Bilal meninggalkan kota Madinah. Bilal tidak pernah mau lagi mengumandangkan azan karena kesedihan yang mengoyak hatinya. Bilal kemudian kembali dan tetap bermukim di Damaskus sampai ia wafat.

Wallohu a’lam bishshowwab.

 

BIRO UMROH SOLO

SHAFA TOUR

Telp/sms/whatsapp: 081 226 555 449 (Arief)

Kantor: Jl. Dr. Radjiman 641A Surakarta (Depan Pom Bensin Jongke)

Web: www.shafaumroh.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.